Langsung ke konten utama

Postingan

Berburu Kelas Belajar Daring selama Pandemi

Sebagaimana yang kita tahu, pandemi membawa banyak perubahan terhadap gaya hidup masyarakat saat ini, bukan? Mulai dari perilaku sosial yang tadinya gemar berkumpul, kini harus menjaga jarak, kepedulian yang meningkat terhadap kebersihan dan kesehatan, sampai sistem kerja dan sistem belajar yang sebelumnya tatap muka menjadi serba digital. Digitalisasi sistem belajar ini salah satunya memunculkan banyak pelatihan atau kelas belajar secara daring yang mudah diakses oleh siapa pun dan di mana pun ia berada. Aku menjadi salah seorang penikmat fasilitas ini semasa pandemi. Sejak resign dari pekerjaan sebagai dosen dua tahun yang lalu, aku memutuskan bahwa itulah waktu yang tepat untuk mengembangkan potensi terpendam yang kumiliki. Karena selama bertahun-tahun sebelumnya aku tidak punya waktu luang untuk meningkatkan keterampilanku, maka kumanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin. Aku tuliskan hal-hal yang ingin kupelajari lebih dalam seperti keterampilan dalam bidang kepenulisan, perencana
Postingan terbaru

Belajar Melihat Kebaikan Suami (2)

Sejak membiasakan diri menulis jurnal syukur dan melakukan terapi luka batin secara rutin, alhamdulilah Allah memudahkan lisanku untuk senantiasa mengucap syukur. Setiap hari, setiap pekan, setiap bulan, ada saja rezeki yang datang menghampiriku. Tidak hanya berupa materi, rezeki yang kuterima juga berupa hubunganku yang semakin harmonis bersama orang-orang terdekat, khususnya suami. Pagi ini, bukan hari Sabtu biasa. Aku dan Bang Yuki (suami) sudah menjadwalkan kegiatan untuk perawatan diri bersama, yaitu melakukan facial. Perawatan facial ini sebenarnya tak lazim ya dilakukan oleh para laki-laki di keluargaku. Pertama kalinya aku tahu ada laki-laki yang mau merawat wajah ke salon selain artis atau para metroseksual lainnya, ya, sama suamiku ini. Meskipun tidak termasuk ke dalam dua golongan tadi, Bang Yuki yang macho dan berwajah sangar ini sangat peduli dengan penampilan. Dulu, di awal masa menikah, beberapa kali memang kami pergi untuk facial bersama. Kebetulan di dekat rumah memang

Ramadhan, Titik Balikku

Kalau diminta memberi ranking bulan Ramadhan kapankah yang paling berkesan dalam hidupku, Ramadhan 1441 H-lah jawabannya. Bulan suci yang bertepatan pada Mei 2020 itu jadi momen saat aku yakin bahwa ternyata aku bisa lho mengubah hidupku menjadi jauh lebih baik.  Di bulan itu aku mengikuti Camp Online Magnet Rezeki (COMR), yakni sebuah program untuk mengajak manusia kembali kepada ketauhidan. Di saat kebanyakan institusi dan organisasi sedang bingung menyikapi pandemi yang baru merebak di Indonesia 2 bulan sebelumnya, tim Magnet Rezeki hebatnya sukses menjadi pionir pengguna aplikasi Zoom yang dapat live stream langsung ke YouTube dan Facebook untuk menyajikan materinya. Program tersebut diselenggarakan full-time selama 7 hari. Pengemasannya begitu apik seolah-olah aku menghadiri seminar besar secara langsung. Acara tidak hanya dilengkapi dengan theme song yang disajikan tiap awal dan akhir sesi, tetapi juga diisi oleh beragam tokoh religi nasional seperti Ary Ginanjar Agustian, Ippho

Kok Bisa Menemukan Luka Batin dari Tanda Tangan?

Dr. Bruce Lipton, seorang ahli biologi dari Amerika, mengemukakan bahwa tujuh tahun pertama usia kehidupan kita menentukan kesuksesan seperti apa yang akan kita raih di masa depan maupun keterbatasan apa yang akan menghambat diri kita di masa depan. Penemuannya ini menjadi landasan konsep dalam Program Terapi BehinDsign bahwa luka batin pun terbentuk pada rentang usia tersebut. Pengalaman anak yang tidak menyenangkan akan terserap ke dalam pikiran bawah sadarnya dan dapat mengontrol segala keputusannya di masa depan. Seingat saya, di salah satu pelatihan NLP yang pernah saya ikuti, sang trainer juga menjelaskan bahwa pikiran sadar kita sebenarnya hanya punya 5% kendali atas diri kita. Sementara itu, pikiran bawah sadar justru mampu mengendalikan 95% dari segala perbuatan kita. Makanya, luar biasa ya, jika kita bisa mengakses pikiran bawah sadar dan memanfaatkannya untuk meningkatkan kualitas hidup kita. Nah, saat menganalisa tanda tangan orang lain untuk menemukan sumber mental block-n

Efek Menyembuhkan Luka Batin dan Mental Block

Beberapa orang menanyakan perubahan apa yang saya rasakan setelah beres berdamai dengan luka batin dan mental block lewat program terapi BehinDsign. Hmm ... Baik, saya coba runut, ya .... Dulu, sumbu amarah saya pendek. Ketika anak menjatuhkan remote TV atau menumpahkan air minum, misalnya, amarah saya langsung tersulut. Meskipun tahu dia melakukannya tidak dengan sengaja, tapi kok, berat ya, mau mengerem omelan yang keluar dari mulut ini. Walaupun kesannya saya "bagak" (bernyali) di hadapan anak, tapi di hadapan orang lain di luar rumah, nyali saya ciut, apalagi kalau sudah berhadapan sama orang yang penuh amarah. Kalau sudah berurusan dengan supir travel atau kurir yang ingin mengantarkan paket ke rumah, beberapa kali saya serahkan urusan menjelaskan rute menuju rumah ke suami. Kok gitu? Iya, dulu, beberapa kali kejadian, kalau engga saya yang frustasi, kurirnya yang marah-marah. Akhirnya, setiap ada situasi serupa, saya sudah keburu berprasangka akan makan hati lagi sehing

Terapi Mental Block melalui Analisa Tanda Tangan

27 November 2021 yang lalu saya mendaftar ke program Terapi 30 Hari behinDsign karena terdorong oleh persoalan anak. Anak saya yang berusia hampir 6 tahun saat itu setiap hari mengeluh karena merasa tidak diterima oleh teman-teman sekelasnya. Awalnya saya bisa menghadapinya dengan kepala dingin ya, tapi, karena keluhannya terus berulang setiap hari, saya sendiri yang jadi cranky. Saya malah balik memarahi anak karena tidak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Harap jangan ditiru, ya. ☹️ Jujur, ini sangat menguras emosi saya karena sebenarnya apa yang anak saya alami merupakan persoalan diri saya juga sepanjang waktu sejak saya masuk bangku sekolah hingga ke dunia kerja. Saya tidak pernah tahu bagaimana cara mengatasinya. Makanya ketika ia menceritakan hal tersebut, saya bukannya memberikan nasehat bijak untuk menenangkan perasaannya, saya justru meledak, melampiaskan kekesalan saya, karena ia seolah membuka kembali luka-luka yang sudah lama saya kubur. Kalau diingat-ingat lagi ... Du

Bullet Journaling untuk Menata Pikiran

Di bulan November ini aku mulai ngebujo alias bullet journaling lagi, nih, setelah stop selama 2 tahun lebih 🤭. Bedanya, kali ini aku mencoba bikin bujo yang dihiasi aneka gambar dan lebih berwarna-warni. Ternyata, seru juga, lo! Ngomong-ngomong, kamu tahu gak, bullet journaling itu apa?  Bullet journaling itu pada dasarnya merupakan salah satu teknik menulis jurnal harian dengan menggunakan bullet atau tanda titik sebagai penanda poin-poinnya.  Kamu pernah gak, bikin to do list di buku agendamu? Kamu menuliskan daftar beberapa kegiatan yang harus kamu lakukan di hari itu, lalu mencoretnya bila sudah selesai. Nah, itulah bujo dalam bentuk sederhana. Kini gaya penulisan bujo sendiri sudah mengalami banyak perkembangan, sampai-sampai (menurutku) jadi satu cabang kreativitas tersendiri. Coba deh, lihat banyaknya kreasi bujo di dunia digital hingga perkembangan komunitasnya. Aneka doodle, stiker, bahkan washi tapes membuat bujo mereka menjadi lebih unik dan menarik.